PNPM Mandiri

Switch to desktop Register Login

Dua Pengurus UPK PNPM Bombana Dipecat

Akibat menyalahgunakan dana simpan pinjam kelompok perempuan (SPP), dua pengurus Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) Kecamatan Poleang Barat Kabupaten Bombana dipecat.

Keduanya bernama Kamril selaku Ketua UPK-PNPM Poleang Barat dan Andi Sompa Susilowati selaku bendaharanya. Selain dipecat, kedua  pengurus itu mendekap di tahanan jeruji polres Bombana.

Laode Hayati, fasilitator Kabupaten (Faskab) PNPM-MP Kabupaten Bombana membenarkan pemecatan tersebut. “Mereka sudah lama diberhentikan. Andi Sompa diberhentikan dari UPK 14 Juni 2012, sedangkan Kamril 13 Oktober 2010,” ujarnya.

Demi integritas dan kredibel lembaga, Laode Hayati menegaskan pihaknya tidak memberi ampun kepada siapapun yang terindikasi menyalahgunakan bantuan PNPM. “Jika terbukti, maka konsekwensinya harus dipecat atau diberhentikan,” tandasnya

Sebelumnya, anggota Polres Bombana menangkap Kamril dan Andi Sompa Susilowati atas dugaan penyalahgunaan dana SPP senilai Rp 504 juta, sejak 2009-2011. Penangkapan tersebut, menindak lanjuti  hasil audit BPKP Sultra yang mencium adanya dugaan tindak pidana korupsi  dana SPP Polbar. 

 

Sumber: suarakendari.com

Last Updated on Friday, 06 June 2014 08:50

Hits: 240

Berdaya Berkat Budidaya Jamur Tiram

Semangat dan kerja keras untuk terus berusaha membuat ibu-ibu kelompok ‘Sangalang Hapakat’ Desa Sangalang, Kahayan Tengah, Kalimantan Tengah menuai sukses. Pelatihan budidaya jamur tiram yang difasilitasi oleh PNPM Mandiri Perdesaan dan didukung sumberdaya sekitar, membuat usaha budidaya jamur yang mereka tekuni berkembang pesat. Mulai dari pembibitan, membuat baglog dan memproduksi jamur menjadi rutinitas mereka sehari-hari. Dan sekarang, karena keterampilan itu mereka dipercaya menjadi narasumber dan pelatih di sejumlah pelatihan budidaya jamur tiram.

Tahun 2007 Desa Tanjung Sanggalang mendapatkan dana kegiatan Simpan Pinjam khusus Perempuan (SPP). Dana pinjaman SPP yang diperoleh kelompok Sangalang Hapakat digunakan oleh para anggotanya untuk menambah modal usaha beternak ayam buras, menanam sayuran dan budidaya ikan. Usaha ternak ayam yang diusahakan itu tidak berjalan mulus begitu juga dengan budidaya ikan dan bertanam sayuran. Usaha itu hanya bertahan 6 bulan saja dan modalpun akhirnya habis. Diantara penyebab kegagalan ini adalah selain tidak direncanakan dengan matang, juga harga pakan ternak yang tinggi serta terkena banjir. Akibatnya kelompok pun menunggak hutang.

Pemanfaatan sumberdaya lokal

Pengalaman pernah gagal dalam usaha ternak ayam dan bertanam sayuran ternyata tidak memupus semangat anggota kelompok Sangalang Hapakat. Mereka tetap rutin mengadakan pertemuan setiap bulannya, membicarakan berbagai kemungkinan usaha yang bisa menambah pendapatan keluarga. Atas fasilitasi Fasilitator Kecamatan (FK) dan Tim Provinsi, kelompok pun diajak merencanakan kegiatan usaha berbasis pada sumberdaya lokal yang ada di sekitar desa. Dari kegiatan ini teridentifikasi sejumlah potensi yang dapat dikembangkan diantaranya adalah limbah kayu hasil penggergajian berbentuk serbuk gergaji yang dapat digunakan menjadi media budidaya jamur tiram. Dari berbagai pertemuan kelompok mengerucut ide untuk melakukan budidaya jamur tiram. Selain didukung oleh potensi bahan baku yang banyak tersedia dan mudah diperoleh sekitar desa, kegiatan ini juga dapat dilakukan di dalam rumah tanpa lahan khusus. Jamur tiram bermanfaat sebagai sayuran, juga dapat dibuat penganan seperti bakwan goreng, jamur telor dan keripik jamur. Akhirnya merekapun bersepakat dan sejumlah anggota berinisiatif melakukan penjajagan ke tempat-tempat usaha budi daya jamur tiram di sekitar Palangkaraya.

 

Tahun 2011, Kelompok SPP Sangalang Hapakat mekar menjadi 4 yaitu: Kelompok ‘Sangalang Hapakat I’ (induk), Kelompok ‘Sangalang Hapakat II’, Kelompok ‘Danau Lais Hapakat I’ dan Kelompok ‘Danau Lais Hapakat II’. Tiga kelompok diantaranya mengajukan usulan pinjaman pada PNPM Mandiri Perdesaan untuk budidaya jamur tiram. Mereka membeli bibit jamur (baglog) di Palangkaraya.

 

Budidaya jamur tiram yang diusahakan oleh kelompok ibu-ibu Desa Tanjung Sangalang itu pun mulai menampakkan hasil. Jamur yang diproduksi selalu habis terjual karena permintaan cukup tinggi, bahkan mereka kesulitan memenuhi permintaan pasar, diantaranya dari Palangkaraya, Barito Selatan dan Gunung Mas.

“Dalam memasarkannya kami tidak mengalami kesulitan, karena banyak pembeli yang langsung datang ke sini. Kamipun tidak perlu repot-repot menjualnya ke pasar”, ujar Ibu Atie ketua Kelompok SPP Sangalang Hapakat I.

Pelatihan pembuatan baglog
Walau hasil jamur selalu habis terjual, ketergantungan kelompok terhadap pihak luar cukup tinggi terutama untuk kebutuhan baglog jamur tiram. Mereka belum bisa membuat sendiri, akibatnya biaya produksi relatif tinggi.

“Kami membeli baglog kepada orang lain, sehingga biaya produksi menjadi tinggi. Salah satu cara mengatasinya, kami harus belajar agar bisa membuat baglog sendiri”, tutur Ibu Atie.  Karena itu mereka bersepakat mengajukan usulan pelatihan budidaya jamur tiram kepada PNPM Mandiri Perdesaan.

Setelah usulan pelatihan budidaya jamur tiram disepakati pada Musyawarah Desa Khusus Perempuan (MDKP) dan Musyawarah Desa Perencanaan, maka disusunlah proposal kegiatan. Untuk itu Fasilitator PNPM Mandiri Perdesaan dan anggota kelompok menemui salah seorang narasumber dari Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah, untuk berkonsulltasi menyusun desain pelatihan dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) guna melengkapi proposal pelatihan itu. Tak lama setelah pengajuan proposal, Tim Verifikasi melakukan verifikasi terhadap usulan tersebut.
Berdasarkan Musyawarah Antar Desa (MAD) Prioritas dan MAD Penetapan TA. 2012 dan rekomendasi Tim Verifikasi, usulan kegiatan Pelatihan Budi Daya Jamur Tiram Desa Tanjung Sanggalang didanai PNPM Mandiri Perdesaan sebesar Rp.17 juta untuk pelatihan membuat baglog dan Rp.60 juta untuk pembibitan.
Setelah pelatihan mereka mencoba membudidayakan jamur tiram. Secara berkelompok mereka melakukan pembibitan dan secara sendiri-sendiri mengelola usaha jamur di rumah masing-masing. Usaha ini tidak membutuhkan waktu yang banyak dan lahan yang luas, pondokan kecil di belakang rumah bisa digunakan.

Kini para ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok SPP Sangalang Hapakat boleh tersenyum lebar. Dengan masa produksi jamur sampai 6 bulan, setiap hari rata-rata para ibu anggota kelompok memanen 10 kg jamur dengan harga Rp. 25 ribu perkg, sehingga mereka bisa mengantongi uang Rp.250ribu perhari.  Selain menjual jamur kepada pengepul yang juga mereka organisir sendiri, secara berkelompok mereka menjual baglog seharga Rp.5ribu persatuannya. Pembelinyapun beragam, mulai dari warga sekitar desa, kecamatan hingga lintas kabupaten. Setiap bulan rata-rata mereka menjual 5.000-10.000 baglog, sehingga hasil yang diperoleh mencapai Rp.25 - 50 juta. Namun jumlah itu bukanlah keuntungan bersihnya, karena harus dikeluarkan separuhnya untuk biaya produksi.

“Keuntungan yang diperoleh lebih dari limapuluh persennya, setelah dikurangi biaya untuk produksi. Laba bersih ini kami bagi rata untuk setiap anggota yang terlibat”, ujar Ibu Atie bersemangat.



Ibu Ati Ketua kelompok Sangalang Hapakat melayani pembeli baglog jamur tiram.


Media belajar warga
Kini kelompok SPP Sangalang Hapakat menjadi tempat belajar bagi warga sekitar. Sejumlah kelompok SPP lainnya juga terinspirasi karenanya dan belajar seluk beluk budidaya jamur tiram kepada mereka. Berbagai media televisi dan koran lokal pun kerap bertandang meliput keberhasilan kelompok ini. Berbagai lembaga juga menawarkan kerjasama pengembangan usaha kelompok. Diantaranya adalah tawaran dari Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (Inotek). Selain itu, karena ‘keahlian’ yang dimiliki, telah 3 kali Bu Ati dan rekannya menjadi narasumber pada pelatihan budidaya jamur tiram di sejumlah kecamatan. Karena itu ia memperoleh berbagai sertifikat penghargaan diantaranya dari Dinas Pertanian Kabupaten Pulang Pisau dan penghargaan sebagai kelompok terbaik dari Bupati Pulang Pisau. Selain penghargaan, sebagai narasumber mereka juga dibayar Rp.5-10 juta untuk sekali pelatihan. Namun tidak demikian halnya bagi warga sekitar, Bu Ati dan kelompoknya ini tidak memungut bayaran alias gratis, asalkan bersungguh-sungguh.

“Warga sekitar yang berminat dan bersungguh-sungguh kami ajari cara budidaya jamur, agar mereka juga bisa dan dapat mengusahakannya”, ungkap ibu Atie.

Berkat kemurahan hati Bu Ati dan anggota kelompok Sangalang Hapakat, kini banyak warga sekitar mampu dan mengupayakan budidaya jamur tiram itu di rumahnya. Diantaranya adalah Ibu Laning.

“Saya dilatih mandiri oleh Bu Ati. Sekarang saya sudah bisa dan punya 800 log dan sudah menghasilkan 2 kg jamur setiap hari”, ucap Ibu Laning senang.

Bu Ati dan anggota kelompok SPP Sangalang Hapakat merasa senang karena bisa membantu ibu-ibu di desanya dalam menambah pendapatan keluarga. Sekarang kelompok SPP Sangalang Hapakat sedang menyelesaikan ‘kombung’ atau pondok jamur tiram yang diusahakan secara berkelompok, membuat beraneka makanan berbahan dasar jamur serta akan memproduksi jenis jamur lokal lainnya. Selain itu mereka juga akan membangun kios tempat menjual berbagai makanan olahan berbahan dasar jamur. Upaya pengembangan usaha ini tidak terlepas dari pembinaan dan pendampingan dari fasilitator PNPM Mandiri Perdesaan yang secara berkala berkunjung ke Desa Sangalang.

PNPM Mandiri Perdesaan merupakan salah satu program penanggulangan kemiskinan kerjasama pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Program ini menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang memusatkan perhatian pada warga miskin dan perempuan di perdesaan. Melalui pendekatan pemberdayaan, warga terlibat secara aktif dalam pengelolaan kegiatan pembangunan di wilayahnya mulai dari perencanaan kegiatan, pelaksanaan, pengawasan hingga pengelolaan dan pelestarian hasilnya. Hingga 2014, PNPM Perdesaan telah mencakup di 5.300 kecamatan dan 393 kabupaten, yang tersebar di 33 provinsi.

 

Last Updated on Wednesday, 28 May 2014 10:22

Hits: 163

Perempuan pun Mampu Membangun Kampung

Nurhayati adalah salah seorang warga Kelurahan Madatte, yang tergabung dalam Unit Pengelola Lingkungan (UPL) Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Silalangngi Kelurahan Madatte, Kabupaten Polewali Mandar. Lahir di Manding, pada 2 Juli 1986,  perempuan yang akrab disapa Ati ini bergabung menjadi relawan dan terlibat di UPL BKM Silalangngi Kelurahan Madatte sejak Maret 2011. Lulusan Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar itu sebelumnya pernah mengajarkan pendidikan agama Islam di SLTP 02 Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, dan di SLTP Negeri 04 Polewali.

 

Nurhayati sedang memfasilitasi dan memandu kegiatan-kegiatan coaching di masyarakat

 

Keterlibatan Ati sebagai relawan berawal dari seringnya dia menemani Nurlela, tetangganya, dalam melakukan aktivitas di PNPM Mandiri Perkotaan. Termasuk saat Nurlela berkunjung ke Kantor Koordinator Kota PNPM Mandiri Perkotaan Polewali Mandar. Nurlela sendiri adalah Koordinator BKM Silalangngi Kelurahan Madatte. Karena seringnya mengantar Nurlela, secara tidak langsung Ati mulai terlibat dalam berbagai kegiatan, yang diadakan baik oleh BKM Silalangngi maupun kegiatan yang diprakarsai oleh PNPM Mandiri Perkotaan Polewali Mandar.

 

Melihat gelagat ketertarikan dan semangat Ati, yang begitu antusias dalam kegiatan-kegiatan terkait program PNPM Mandiri Perkotaan, maka ketika UPL Kelurahan Madatte sebelumnya mengundurkan diri, salah satu fasilitator menyarankan kepada Nurlela untuk mengajak Ati “mengokohkan” keterlibatannya di program dengan menjadi anggota UPL BKM Silalangngi. Gayung bersambut. Ati menerima tawaran itu dan siap menjadi salah satu bagian dalam program penanggulangan kemiskinan.

 

Sejak bergabung hingga sekarang, tercatat bahwa  Ati merupakan UPL senior bila ditinjau dari masa baktinya hingga kini di PNPM Mandiri Perkotaan. Tidak hanya itu, Ati juga merupakan satu-satunya UPL perempuan dari total sembilan BKM yang ada se-Kecamatan Polewali.

 

Nurhayati sedang bersosialisasii dan berdiskusi dengan warga

 

Ditanyai mengenai kegiatan lingkungan yang pernah ditanganinya, Ati mengatakan, kegiatan yang paling dirasakan perubahannya adalah kegiatan pengerasan jalan, rabat beton dan drainase. “Sebelumnya, setiap musim hujan, jalan di lingkungan ini berubah menjadi genangan; sangat becek, karena tidak ada drainase, air tidak mengalir dan akhirnya tergenang,” ungkap Ati. Malahan biasanya genangan air tersebut mencapai setinggi lutut orang dewasa, dan butuh waktu seminggu untuk menunggu airnya surut.

 

Setelah surut, persoalan belum selesai sampai. Dari bekas genangan air akan terlihat cacing-cacing di permukaan tanah. Lingkungan menjadi jorok dan bau. Kondisi yang memprihatinkan juga adalah ketika hendak bersekolah, anak-anak harus membuka sepatunya dan berjalan melewati genangan.

 

Ati mengungkapkan bahwa kondisi-kondisi seperti itulah yang kemudian membuat dia prihatin, sehingga sangat tertarik untuk ikut berpartisipasi di program ini guna membantu sesama. Dan, walaupun memegang peran sebagai UPL, Ati tidak membatasi dirinya dengan hanya mengurusi pekerjaan UPL saja. Ati juga ikut serta dalam segala urusan yang ada di kelurahannya. Ati turut berpartisipasi dalam kegiatan pembinaan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) ekonomi bergulir dan kegiatan sosial yang diadakan di Kelurahan Madatte.

 

Salah satu kegiatan sosial yang terus berlanjut dan dirasakan sampai sekarang adalah kegiatan “Pelatihan Kewirausahaan”. Terbukti bahwa peserta pelatihan telah mandiri dengan membuka gerobak-gerobak kafe di depan kampus STAI DDI dan Unasman Polewali. Gerobak-gerobak Kafe ini menyajikan berbagai macam menu, mulai dari aneka makanan ringan, es teler, nasi kuning, dan lain-lain.

 

Bukan hanya mahasiswa saja yang mengunjungi warung mereka, tapi juga pegawai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang berkantor tidak jauh dari tempat tersebut. Bahkan, siswa-siswi yang sekolahnya terletak cukup jauh dari lokasi juga ikut mengunjungi warung mereka. Gerobak kafe ini juga menjadi salah satu tempat favorit para fasilitator PNPM Mandiri Perkotaan. Selain enak, porsinya banyak, tentunya juga murah meriah.

 

Ditanyai mengenai kesan-kesannya selama bergabung dengan PNPM Mandiri Perkotaan Polewali Mandar, Ati menjawab bahwa ia memiliki pengalaman baik suka maupun duka. Sukanya adalah ia memiliki banyak pembelajaran dan kenalan juga makin bertambah. Sedangkan dukanya adalah pada saat kegiatan berjalan, ia mengaku sering mengalami kesulitan menghadapi KSM/masyarakat, utamanya untuk kegiatan lingkungan seperti rehab rumah, pengadaan air bersih dan jamban keluarga.

 

“Partner setia” Lela ini mengatakan dirinya senang bergabung dan mengabdi kepada warga sebagai UPL BKM. “Dengan begitu saya jadi lebih banyak tahu mengenai permasalahan di kelurahan saya, dan saya bisa berupaya bersama warga  untuk mengatasi berbagai masalah tersebut. Sebagai UPL, saya tidak keberatan ikut berpartisipasi dalam kegiatan lainnya, seperti kegiatan ekonomi dan sosial. Karena, dengan begitu pelajaran yang saya dapatkan bukan hanya permasalahan lingkungan saja, tapi juga mendapatkan pelajaran yang amat berharga di ketiga bidang tersebut, dengan begitu pengalaman saya bertambah,” jelas Ati.

 

Beberapa dokumentasi kegiatan yang dikoordinir oleh Nurhayati

 

Lebih lanjut dia mengatakan, semua permasalahan yang terjadi di kelurahan kita adalah masalah kita bersama. “Jadi tidak harus menunggu kita kaya atau punya posisi penting dulu, baru bisa terlibat. Semua punya kesempatan sama. Yang membedakan adalah motivasi dan niatnya saja,” ungkapnya.

 

Begitulah Nurhayati, salah satu sosok yang cocok dijadikan panutan bagi warga lainnya. Jiwa sosial, rela dan ikhlas yang dimilikinya adalah jiwa yang dibutuhkan untuk membawa kampung keluar dari keterpurukan. Semoga saja kita dapat menemukan Nurhayati-nurhayati lainnya di setiap daerah, dan melalui semangatnya kita memiliki jiwa Nurhayati dalam diri kita. [p2kpdotorg]

 

Last Updated on Wednesday, 28 May 2014 06:08

Hits: 165

Kartini-kartini dari Sudut Sadu

Meski harus bergelut dengan beratnya medan, mereka terus menunjukkan kontribusinya untuk membangun daerah mereka yang terpencil. Kodrat seorang perempuan bukan suatu kelemahan yang membuat mereka harus berpangku tangan. Mereka adalah ‘Kartini’ dari sudut  Sadu yang terus mengabdi.

Sadu merupakan salah satu kecamatan partisipasi dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Propinsi Jambi sejak tahun 2008. Kecamatan ini terbagi dalam 1 kelurahan dan 8 desa yang merupakan kecamatan sangat sulit wilayahnya. 

Dari 8 desa tersebut, terdapat 2 desa yang aksesnya sangat sulit, yaitu Desa Sungai Cemara dan Labuhan Pering. Untuk menuju ke desa tersebut cukup berat tantangannya, apalagi bila musim hujan, jalanan tidak bisa dilalui dengan kendaran bermotor, dan bila menggunakan kapal atau pompong harus melihat kondisi pasang surutnya air. Sedangkan bila musim kemarau harus melewati jalan berdebu.

Tapi siapa sangka dengan kondisi alam seperti itu, terdapat para perempuan hebat yang terus memberikan pengabdian untuk pebangunan di desa mereka. Mereka adalah para ‘Kartini’ yang tergabung dalam Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) PNPM Mandiri Perdesaan.

Salah satu diantara mereka adalah Rosnaini. Sejak bergabung sebagai kader desa tahun 2012, peran Rosnaini sangat mempengaruhi pembangunan di desanya terutama dalam program PNPM Mandiri Perdesaan. Yang mana dengan sepak terjangnya dalam menyosialisasikan program, menunjukkan kemajuan berarti di desa. Terbukti  dengan lancarnya kegiatan dana bergulir yang menjadi salah satu tugas yang difasilitasinya.

Berkat prestasi yang diperoleh desa itu, kelompok-kelompok Simpan Pinjam untuk Perempuan (SPP) di Desa Sungai Cemara mendapatkan Insentif Pengembalian Tepat Waktu (IPTW). Sementara itu dibidang prasarana berkat kerja sama KPMD dan pihak desa maka tahun 2014, desa ini didanai PNPM Mandiri Perdesaan untuk membiayai pembangunan jalan rabat beton sepanjang 1000 meter serta pelatihan menjahit bagi 20 orang warga.

Selain itu, dibawah pembinaan Rosnaini ini kelompok SPP  Perempuan Peduli Cemara hingga saat ini telah memiliki kas kelompok sebesar Rp 12,7 juta dengan jumlah anggota 29 orang.

Ketangguhan dan keuletan Rosnaini ini sudah teruji. Ia tidak pernah mengeluh dengan kondisi gegrafis daerahnya yang harus dilalui untuk menghadiri setiap kegiatan di tingkat kecamatan..

Rosnaini berhasil menunjukkan dedikasi yang tinggi kepada masyarakat. Karena itu pula, mungkin ia terpilih oleh masyarakat untuk menjadi salah seorang anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Selain Rosnaini, Sadu juga memiliki seorang kader wanita yang dengan tangan dinginnya telah berhasil membina dalam dan mendampingi masyarajkat. Ia adalah Darmayanti, KPMD Labuhan Pering.

Desa Labuhan Pering juga tercatat sebagai desa yang memiliki kelompok SPP yang bebas tunggakan. Selain itu, kegiatan pembangunan Posyandu Integrasi PAUD tahun 2013 juga terlaksana dengan baik.

Keberhasilan yang dicapai Desa Labuhan Pering tidak lepas dari campur tangan dari Darmayanti sebagai fasilitator di tingkat desa. Meski akses transportasi yang sangat sulit, ia tidak mau tunduk dengan kegarangan alam itu. Ia selalu aktif dalam menghadiri setiap kegiatan di kecamatan. Sebab baginya, semua kegiatan adalah pengetahuan baru yang harus didapatnya untuk selanjutnya diterapkan di desa.

Kartini boleh meninggalkan kita. Tapi semangat keteladanannya harus terus dihidupkan. Semangat kepahlawanan itu  akan terus membara. Salah satunya didalam diri dua KPMD Kecamatan Sadu ini.(pnpm-perdesaan.or.id)

Last Updated on Wednesday, 28 May 2014 07:22

Hits: 164

PNPM Bantu Tenaga Kesehatan di Melawi

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Kabupaten Melawi siap memberikan fasilitas kepada tenaga kesehatan yang bertugas di daerah pedalaman. Khususnya kepada mereka yang mengalami hambatan pada saat akan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

"Misalnya tenaga medis ini sulit menjangkau daerah pelayanan, sementara biaya transportasinya tidak ada. Kita akan usahakan bagaimana supaya tenaga medis tersebut bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat, jadi yang kita biayainya hanya transportasi," kata Fasilitator PNPM Kabupaten Melawi, Syahbani Rabu (14/5/2014).

Pelayanan ini sesuai dengan perencanaan yang diajukan oleh desa. Apakah desa itu berada di wilayah perbukitan atau berada di wilayah tepian sungai. Menurutnya, sekarang ini persoalan biaya transportasi memang sering menjadi kendala dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

"Misalnya tenaga medis ini pakai speed, mencapai Rp 1 juta, nah itukan mahal, sementara dana dari pemda juga tidak ada. Kita siapkan speed, kita fasilitasi, namun tenaga medisnya tidak kita bayar. Karena pelayanan kesehatan itukan memang sudah menjadi tanggung jawab dia," lanjutnya.

Dia mengungkapkan, pelayanan kesehatan ini memang lebih diutamakan pada, ibu hamil dan melahirkan, sementara untuk pendidikan, diprioritaskan adalah anak yang tidak bersekolah atau diperkirakan akan putus sekolah.(tribunPontianak)

Last Updated on Tuesday, 20 May 2014 09:26

Hits: 166