PNPM Mandiri

Switch to desktop Register Login

Melawan Stigma, Meretas Hidup Baru

Jumat, 16 November 2012

KOMPAS/CORNELIUS HELMY HERLAMBANG

Mbah Warjo (75) dan rekannya, Ali Nurdin, membuat pupuk organik cair di rumahnya di Ponjong, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, Rabu (31/10). Mbah Warjo adalah anggota kelompok Sido Maju, yang beranggotakan eks tahanan politik 1965, yang berusaha mandiri lewat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Peduli.

Puluhan tahun hidup terkucil, para korban politik terkait peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, minim akses untuk sejahtera. Berkat pendampingan usaha kecil menengah, harapan hidup lebih baik perlahan menghampiri mereka.

Matahari masih bersinar terik ketika Triwinarni (40) mulai menginjak mesin jahit manual bersama lima rekannya anggota Kelompok Mawar Indah di Kepek, Wonosari, Gunung Kidul, Selasa dua pekan silam. Di ruang tamu seluas 6 meter x 6 meter, Tri antusias mengerjakan pesanan baju seragam sekolah.

”Kemarin ada pesanan dari Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Dewi Pratama Gunung Kidul. Tapi, karena baru belajar, ya, hanya bisa rampung separuh dari 40 pesanan baju,” kata Tri sembari tersenyum malu.

Tri mendapat upah Rp 5.000 per baju. Ia mendapatkan Rp 30.000 setelah menyelesaikan enam baju selama tiga minggu. Jumlah itu lebih kecil ketimbang hasil dari pekerjaan tetap menjual tempe yang mencapai Rp 20.000 per hari.

”Mungkin hasilnya kecil, tetapi kebahagiaan justru saat ada pihak yang percaya menjahitkan baju kepada kami,” kata anak eks tahanan politik (tapol) 1965 asal Gunung Kidul ini.

Sekitar 20 kilometer ke arah timur, peluh keringat tidak mengurangi semangat eks tapol Redjomulyo (75) mengolah pupuk organik berbahan susu, ikan, nanas, dan tetes tebu. Sejak 2008, bersama kelompok anggota Sido Maju, Redjomulyo belajar memproduksi pupuk cair organik di Kecamatan Ponjong, Gunung Kidul. Pupuk cairnya digunakan untuk beberapa hektar sawah di Gunung Kidul. Petani tembakau Temanggung juga puas dengan pupuk buatannya.

”Pupuk organik memberikan harapan bagi eks tapol di Ponjong untuk lepas dari kemiskinan,” katanya.

Pengalaman Triwinarni dan Redjomulyo adalah potret perubahan eks tapol dan keluarganya di Gunung Kidul. Jika sebelumnya diam berbalut trauma, kini mereka berkarya tanpa dihantui ketakutan. Perubahan itu dipicu pengakuan pemerintah yang hadir lewat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Peduli.

”Dulu kepercayaan ini sulit kami dapatkan. Membentuk kelompok seperti ini saja kami tidak berani karena takut dituduh komunis baru,” ujar Tri.

Korban

Deputi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Bidang Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat Sujana Royat mengatakan, PNPM Peduli digulirkan sejak Mei 2011. Total dana yang dikelola Bank Dunia 9,718 juta dollar AS untuk tiga tahun. Program ini membidik sekitar 4.000 orang yang tidak bisa mengakses PNPM Mandiri.

Hingga November 2012, tercatat 1.986 penerima program di 30 kota/kabupaten di 11 provinsi. Selain eks tapol, program ini juga menyasar kelompok gay, HIV/AIDS, penarik becak dan buruh kasar, serta masyarakat adat terpencil. Pendampingan dilakukan dengan menggandeng Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU).

Pembina Lakpesdam NU Gunung Kidul, Zaenuri Ikhsan, mengatakan, program ini ditujukan kepada eks tapol dan keluarga yang umumnya hidup miskin. Pascatragedi 1965, mereka kesulitan mencari mata pencarian yang layak. Mereka tak punya akses untuk menyejahterakan keluarga. Mereka adalah bagian dari penduduk miskin di Gunung Kidul, yang tahun ini mencapai 22,05 persen dari sekitar 650.000 jiwa.

Mengutip catatan Arbi Sanit pada buku Badai Revolusi, Sketsa Kekuatan Politik PKI di Jawa Tengah dan Jawa Timur (2000), Lakpesdam NU menyebutkan Partai Komunis Indonesia (PKI) menang di Gunung Kidul pada Pemilihan Umum 1955 dengan meraih 101.351 suara.

Berdasarkan data Daftar Hasil Pembagian Kursi DPRD 1958, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Swantara Tingkat II, PKI mendapatkan 18 kursi dari total 35 kursi di daerah tersebut.

Hadi Siswanto (75), anggota kelompok Sido Maju lainnya, pasrah menerima kenyataan pernah dicurigai sebagai anggota PKI. Pascatragedi 1965, ia pernah mendekam di Kamp Pertani Wonosari selama dua tahun tanpa proses pengadilan.

”Keluarga telantar. Setelah dipecat dengan tidak hormat sebagai guru, harta benda terpaksa dijual untuk menghidupi anak dan istri,” kata Hadi, kini buruh tani dengan penghasilan Rp 20.000 per hari.

Sutilah (69), mantan bintang panggung Grup Ketoprak Mudo Widodo, mengalami hal yang sama. Karena pernah tampil bersama anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat, ia luput dari program kesejahteraan pemerintah.

Dengan mata berkaca-kaca, warga Desa Kepek, Kecamatan Wonosari, ini mengungkapkan, bantuan seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat dan bantuan langsung tunai tidak pernah ia dapatkan. Baru setahun belakangan ia mendapatkan layanan Jaminan Kesehatan Semesta.

Ikhsan mengatakan, sejak Oktober 2011, pendampingan diberikan kepada 150 orang di Gunung Kidul. Dana yang dikucurkan hingga November 2012 sebesar Rp 318.100.000. Tidak mudah mengajak mereka. Rasa terkucil masih kental. Namun, semangat untuk berubah perlahan mengalahkan perasaan itu.

Ada lima kelompok yang aktif mengikuti program PNPM Mandiri. Kelompok Mawar Indah di Kecamatan Wonosari dengan program utama menjahit sebanyak 30 orang. Kelompok Sido Maju dengan program pupuk organik (30 orang) dan Menur dengan program makanan ringan (25 orang) di Kecamatan Ponjong. Ikut pula Nggowo Berkah (21 orang) dan Sumber Rejeki (44 orang) yang fokus pada makanan olahan.

”Pembekalan keterampilan melibatkan pelaku usaha sukses dan berbagai instansi Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul,” ujarnya.

Menurut Ikhsan, pemberdayaan itu perlahan mampu meningkatkan penghasilan sekitar Rp 100.000 per rumah tangga per bulan. Namun, yang tak kalah penting, mereka tidak lagi rendah diri. Mereka sudah dihargai masyarakat umum dan pemerintah.

Sumber :Kompas Cetak

Editor :Hindra

http://nasional.kompas.com/